suatu saat aku akan menulis surat tanpa nama kepada dewa Ra,
bahwa detik ini tak ada lagi rotasi satu semesta padanya,
bahwa kepingan ruang dan waktu telah tersimpan rapi dalam kotak pandora,
bahwa tidak ada sengatan Matahari yang dapat masuk dalam semestaku,
bahwa kunci yang sedari dulu hanya bisa kusimpan rapi, telah beralih tangan,
bahwa semestaku menemukan elemen baru.
bahwa suatu saat itu tidak perlu menghabiskan ribuan tahun,
bahwa suatu saat itu adalah saat ini,
ketika aku tak bisa berhenti menengok permukaan, meski hal itu membuat nafasku tersengal.
hanya untuk melihat elemenku, tidur mendengkur.
ketika tawaku pecah saat menikmati angin pantai yang lengket ketika ia menculikku.
ketika pupil tidak bisa tidak menangkap bayangannya, kemanapun ia pergi,
ketika aku terjatuh, dan ternyata ia menangkapku.
ketika ia menunggu di permukaan hanya untuk melihatku tersenyum dan menyerahkan kunci milikku,
ketika waktu tiba-tiba berhenti, dan aku bisa bernafas tanpa insang.
aku tak lagi berotasi, aku tak lagi berada di tepi jurang.
aku berada di guanya, meski aku belum tau bagaimana cara bernafas sepertinya.
12.12.12
15.11.12
Percaya
sang pantulan cermin berkata, roda berputar.
iya, aku tahu. roda memang berputar.
tapi apakah yang di sana menghendaki perputaran yang sama?
sang pantulan cermin berkata lagi, percaya.
percaya pada apa?
keegoisan merajalela.
pertanyakan diri dalam pantulan cermin.
entah berapa kantung harga diri sudah dibuang.
dengan segenggam nyali, beranikan untuk percaya.
iya, aku tahu. roda memang berputar.
tapi apakah yang di sana menghendaki perputaran yang sama?
sang pantulan cermin berkata lagi, percaya.
percaya pada apa?
keegoisan merajalela.
pertanyakan diri dalam pantulan cermin.
entah berapa kantung harga diri sudah dibuang.
dengan segenggam nyali, beranikan untuk percaya.
Gadis bodoh yang duduk di tepi jurang.
Gadis bodoh itu tetap
duduk di pinggir jurang.
Entah apa yang
dilihatnya, yang jelas di seberang tempat ia duduk terdapat sebuah rumah.
Dia tak sedang
mengintai, ataupun mempersiapkan sesuatu.
Ia hanya diam, dengan
tatapan lekat tertuju pada rumah tersebut.
Aku pun tak tahu, apa
yang sedang ada dipikirannya.
Untuk apa ia
membuang-buang waktu, hanya duduk di tepi jurang, padahal banyak orang yang
mengajaknya pergi, beranjak dari tempat yang membosankan itu.
Tapi ia selalu
menggeleng. Menggeleng dan terus menggeleng, tidak melepas pandangannya dari
rumah.
Apa yang ia cari?
Hingga kuberanikan diri
untuk bertanya.
“Hey, sedang apa kau?”
“Aku? Sedang menikmati
sesuatu yang semesta berikan.”
“Kau tidak bosan?”
“Mengapa harus bosan?”
“Bukankah banyak yang
lebih menarik, ketimbang duduk disini?”
Gadis itu menatapku
sejenak kemudian tersenyum.
“Aku percaya, semesta
tidak sembarangan memberi aku kode-kodenya selama ini. Kata seseorang, aku
hanya perlu mempertebal kepekaanku. Aku tidak hanya duduk. Aku sedang
mempercayai apa yang aku lihat adalah baik.”
Dan aku semakin tidak
paham dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.
“Jadi, kau tidak mau
ikut denganku? Rumah itu sebentar lagi akan berpenghuni lagi.”
“Tidak, terimakasih. Aku tau cepat atau lambat ia akan punya penghuni baru. Tapi aku
akan mengejar apa yang membuat aku nyaman.”
Kutinggalkan gadis itu,
yang masih tetap duduk di pinggir jurang.
Gadis bodoh,
mempercayai sesuatu yang tidak pasti.
2.11.12
Rumah.
tidak mudah membangun sebuah rumah, apalagi mulai dari nol.
proses menggambar, memilih bahan bangunan, dan bahkan memilih tukang terpercaya yang bisa membangun rumah yang diinginkan.
semua proses penting, dan setiap detail juga mempunyai pengaruh.
kamu tidak bisa membangun rumah dengan hitungan hari.
terkadang prosesnya melelahkan, dan menuntut kamu untuk tidak berhenti.
terkadang bahan yang kamu inginkan tidak selalu menjadi bahan yang sebenarnya dibutuhkan.
terkadang proses membuatmu seolah ingin menghancurkan beberapa pondasi menjadi puing-puing.
kemudian pergi.
kamu tidak bisa membangun rumah dengan keadaan letih.
ya, kamu tidak akan pernah tau sampai kamu benar-benar mencobanya.
apakah desain rumah seperti ini benar-benar cocok untukmu?
apakah bahan-bahannya bisa membuat pondasi rumahmu kokoh?
dan apakah benar, kamu sedang ingin membangun rumah?
pikirkan kembali.
apakah kamu butuh rumah,
atau tempat untuk singgah?
proses menggambar, memilih bahan bangunan, dan bahkan memilih tukang terpercaya yang bisa membangun rumah yang diinginkan.
semua proses penting, dan setiap detail juga mempunyai pengaruh.
kamu tidak bisa membangun rumah dengan hitungan hari.
terkadang prosesnya melelahkan, dan menuntut kamu untuk tidak berhenti.
terkadang bahan yang kamu inginkan tidak selalu menjadi bahan yang sebenarnya dibutuhkan.
terkadang proses membuatmu seolah ingin menghancurkan beberapa pondasi menjadi puing-puing.
kemudian pergi.
kamu tidak bisa membangun rumah dengan keadaan letih.
ya, kamu tidak akan pernah tau sampai kamu benar-benar mencobanya.
apakah desain rumah seperti ini benar-benar cocok untukmu?
apakah bahan-bahannya bisa membuat pondasi rumahmu kokoh?
dan apakah benar, kamu sedang ingin membangun rumah?
pikirkan kembali.
apakah kamu butuh rumah,
atau tempat untuk singgah?
27.10.12
Thank You.
A cup of espresso on such a serene afternoon. Embracing the silence by the window, staring into nothingness. The residue of the past turns into dust; and everything’s sparkling under the sun. - @beradadisiniDon't stop me, dear you.
21.10.12
Segitiga.
semesta, hari ini kita berjumpa.
bertatapan mata. bertukar cerita.
tidak. kali ini tidak menyusuri rumah.
tapi kita saling melempar tanya.
semesta, lalu aku harus menjawab apa,
kalau aku pun masih tidak paham dengan jalan yang Kau tunjukkan?
sehingga ketika ia melempar tanya,
aku tangkap dan simpan dalam kepala.
tapi susah.
karena hati selalu ingin ambil bagian.
semesta, lalu aku harus bagaimana?
rasanya aneh ketika aku berpikir tentang apa yang tidak ingin kupikir.
rasanya pahit ketika aku harus berucap apa yang tidak ingin kuucap.
namun, aku tidak ingin melepaskan.
karena apa yang aku pijak kali ini,
benar-benar tempat yang ingin aku pijak.
bukan untuk diinjak, tapi untuk berdiri tegak.
siap melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
semesta, aku tidak lebih dari perempuan brengsek.
karena aku mengkhianati kaumku sendiri.
aku kanibal yang tidak bisa menahan diri.
tapi aku bisa apa?
kejujuran hatiku ingin diberi apresiasi.
tapi dilain tempat, kejujuranku bak pisau beracun yang siap melahap hati.
semesta, kita bertemu pukul empat.
kusiapkan tempat, agar percakapan kita erat dan melahirkan surat.
surat ijin untuk melanjutkan perjalanan.
dengan atau tanpa si pemilik senyuman.
bertatapan mata. bertukar cerita.
tidak. kali ini tidak menyusuri rumah.
tapi kita saling melempar tanya.
semesta, lalu aku harus menjawab apa,
kalau aku pun masih tidak paham dengan jalan yang Kau tunjukkan?
sehingga ketika ia melempar tanya,
aku tangkap dan simpan dalam kepala.
tapi susah.
karena hati selalu ingin ambil bagian.
semesta, lalu aku harus bagaimana?
rasanya aneh ketika aku berpikir tentang apa yang tidak ingin kupikir.
rasanya pahit ketika aku harus berucap apa yang tidak ingin kuucap.
namun, aku tidak ingin melepaskan.
karena apa yang aku pijak kali ini,
benar-benar tempat yang ingin aku pijak.
bukan untuk diinjak, tapi untuk berdiri tegak.
siap melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
semesta, aku tidak lebih dari perempuan brengsek.
karena aku mengkhianati kaumku sendiri.
aku kanibal yang tidak bisa menahan diri.
tapi aku bisa apa?
kejujuran hatiku ingin diberi apresiasi.
tapi dilain tempat, kejujuranku bak pisau beracun yang siap melahap hati.
semesta, kita bertemu pukul empat.
kusiapkan tempat, agar percakapan kita erat dan melahirkan surat.
surat ijin untuk melanjutkan perjalanan.
dengan atau tanpa si pemilik senyuman.
20.10.12
the time I remember most.
mengingatnya saja sudah membuat perutku geli.
dua hari yang lalu aku pulang.
ke rumah kami yang nyaman dan selalu aku rindukan.
bukan tanpa sebab aku kembali ke sana.
ke tempat yang seharusnya aku simpan dalam-dalam.
si pemilik senyum itu mengajakku berjalan-jalan, menyusuri setiap tepi rumah.
baunya masih sama. atmosfernya masih sama.
tidak ada yang berubah.
posisi sofa, tv, dan bahkan dua mug orange tetap pada tempatnya.
miniatur tomcat, meski sedikit rusak, namun tetap berdiri gagah.
dan misteri jogja dan ulang tahun pun terkuak satu persatu.
aku benar-benar kembali ke rumah.
aku pulang.
kemudian, hatiku penuh.
dan sekarang aku bingung mencari cangkir untuk menampung.
dua hari yang lalu aku pulang.
ke rumah kami yang nyaman dan selalu aku rindukan.
bukan tanpa sebab aku kembali ke sana.
ke tempat yang seharusnya aku simpan dalam-dalam.
si pemilik senyum itu mengajakku berjalan-jalan, menyusuri setiap tepi rumah.
baunya masih sama. atmosfernya masih sama.
tidak ada yang berubah.
posisi sofa, tv, dan bahkan dua mug orange tetap pada tempatnya.
miniatur tomcat, meski sedikit rusak, namun tetap berdiri gagah.
dan misteri jogja dan ulang tahun pun terkuak satu persatu.
aku benar-benar kembali ke rumah.
aku pulang.
kemudian, hatiku penuh.
dan sekarang aku bingung mencari cangkir untuk menampung.
Langganan:
Postingan (Atom)

