hidup di dunia berkepala dua ternyata lebih nyata.
terlalu tua untuk berlindung di bawah ketiak orang tua,
dan terlalu takut untuk keluar dari tempurung karena tidak pernah melihat dunia luar.
semakin lama, hidup pada masa kepala dua hanya akan membuat punggungmu makin bungkuk karena beban tak kunjung hilang, malah bertambah.
semakin lama, hidup pada masa kepala dua membuat rambutmu rontok dan kecanduan aspirin hanya karena terlalu lelah untuk berfikir.
atau,
ini hanya aku?
aku kira aku sudah paham dengan yang namanya ikhlas.
tapi apa?
kenapa seketika aku terdiam mati di tempat ketika tahu tidak ada namaku di situ?
kesempatan demi kesempatan hilang.
menyisakan pertanyaan: sampai kapan?
ini masih 10 kilometer pertama, dela.
jangan cengeng.
15.4.13
21.12.12
Pelukan itu.
apa kabar, Malta?
sepertinya suratku sudah sampai, ya?
semoga bisa mengendap, dan segala aroma rasa yang terkumpul di dalamnya dapat memenuhi ruang otakmu.
baiklah. jadi begini..
lengan percayaku sudah memelukmu, dan kamu tau itu.
dan aku baru saja menemukan sesuatu dalam kotak yang ada di tumpukkan bawah.
entah sengaja, atau termakan waktu saja.
aku juga tidak tau.
apakah kotak itu masih difungsikan, atau ingin kau buang tapi tak bisa, atau..
entahlah.
pinsilku sampai patah.
entah karena emosi, atau karena pelukanku perlahan melorot, melepaskan eratnya darimu.
aku benci pertanyaan.
tapi kau tidak memberiku energi untuk selalu bisa memelukmu.
aku tidak bisa berdiri sendiri.
logikaku memarahi aku.
bahkan ia marah ketika musuhnya, hati, merintih kesakitan.
entah apa yang ada di pikiranmu, Malta.
aku tidak tau.
aku tidak pernah tau.
karena mulutmu terkunci dan aku tak menemukan aku dalam matamu.
tidak ada aku.
tidak ada.
ah, pinsilku patah lagi.
Malta, mengapa aku tidak bisa memelukmu lagi?
Yang selalu melihatmu,
Jani.
sepertinya suratku sudah sampai, ya?
semoga bisa mengendap, dan segala aroma rasa yang terkumpul di dalamnya dapat memenuhi ruang otakmu.
baiklah. jadi begini..
lengan percayaku sudah memelukmu, dan kamu tau itu.
dan aku baru saja menemukan sesuatu dalam kotak yang ada di tumpukkan bawah.
entah sengaja, atau termakan waktu saja.
aku juga tidak tau.
apakah kotak itu masih difungsikan, atau ingin kau buang tapi tak bisa, atau..
entahlah.
pinsilku sampai patah.
entah karena emosi, atau karena pelukanku perlahan melorot, melepaskan eratnya darimu.
aku benci pertanyaan.
tapi kau tidak memberiku energi untuk selalu bisa memelukmu.
aku tidak bisa berdiri sendiri.
logikaku memarahi aku.
bahkan ia marah ketika musuhnya, hati, merintih kesakitan.
entah apa yang ada di pikiranmu, Malta.
aku tidak tau.
aku tidak pernah tau.
karena mulutmu terkunci dan aku tak menemukan aku dalam matamu.
tidak ada aku.
tidak ada.
ah, pinsilku patah lagi.
Malta, mengapa aku tidak bisa memelukmu lagi?
Yang selalu melihatmu,
Jani.
20.12.12
Malta dan Jani.
Hai, Malta.
Ini surat pertama, dan akan ada surat-surat lainnya yang mendiami kotak suratmu sejenak sebelum berpindah ke tanganmu dan mengendap dalam memorimu melalui mata besarmu.
Aku pernah cerita, bagaimana bingungnya aku dengan apa yang terjadi beberapa bulan belakangan ini.
Bolak-balik aku ke bengkel, hanya untuk membenahi logikaku.
Mungkin karena terlalu sering kugunakan lebih dari sebagaimana mestinya.
Sehingga, beberapa bulan ini aku sering kerepotan karena mau tidak mau aku memakai hati untuk berfikir.
Kamu tau kan, Malta, bagaimana ribetnya memakai hati.
Aku tidak terbiasa. Dan ketika memakainya, rasanya aku seperti memakai kemeja dengan kancing yang tidak dikancingkan pada lubangnya. Amburadul.
Haha. Kau pasti tertawa, Malta.
Ya. Tidak ada yang mengetahui aku lebih dalam daripada kamu.
Bahkan sebelum aku mengetahuinya, kamu sudah tau lebih dulu.
Selalu ada dua Jani di dalam satu Jani.
Aku ingin menyapamu malam ini, Malta.
Tapi aku terlalu tenggelam dalam ego yang sedikit demi sedikit memakan akal sehatku.
Egoku pun akhirnya, memuarakanku kepada ketakutan yang selama ini menjadi tembok besar di rumah.
Baru saja, malam tadi, aku katakan untuk melawan rasa takutku.
Tapi kemudian ia datang seperti petir.
Tiba-tiba, mengagetkan, dan menyisakan gemeretuk gigi karena ngeri.
Aku harus bagaimana, Malta?
Ketika aku sudah kenyang dengan pertanyaan, kamu malah menjejaliku dengan semangkuk tanda tanya.
Tidak bisakah kamu mengerti saja, hanya mengerti saja, bahwa aku tidak suka?
Aku tidak ingin menyendok mangkukmu.
Tidak bisakah,
kamu mengerti saja,
hanya mengerti.
bahwa aku tidak suka?
Yang ingin meruntuhkan segala pertanyaanmu,
Jani.
Ini surat pertama, dan akan ada surat-surat lainnya yang mendiami kotak suratmu sejenak sebelum berpindah ke tanganmu dan mengendap dalam memorimu melalui mata besarmu.
Aku pernah cerita, bagaimana bingungnya aku dengan apa yang terjadi beberapa bulan belakangan ini.
Bolak-balik aku ke bengkel, hanya untuk membenahi logikaku.
Mungkin karena terlalu sering kugunakan lebih dari sebagaimana mestinya.
Sehingga, beberapa bulan ini aku sering kerepotan karena mau tidak mau aku memakai hati untuk berfikir.
Kamu tau kan, Malta, bagaimana ribetnya memakai hati.
Aku tidak terbiasa. Dan ketika memakainya, rasanya aku seperti memakai kemeja dengan kancing yang tidak dikancingkan pada lubangnya. Amburadul.
Haha. Kau pasti tertawa, Malta.
Ya. Tidak ada yang mengetahui aku lebih dalam daripada kamu.
Bahkan sebelum aku mengetahuinya, kamu sudah tau lebih dulu.
Selalu ada dua Jani di dalam satu Jani.
Aku ingin menyapamu malam ini, Malta.
Tapi aku terlalu tenggelam dalam ego yang sedikit demi sedikit memakan akal sehatku.
Egoku pun akhirnya, memuarakanku kepada ketakutan yang selama ini menjadi tembok besar di rumah.
Baru saja, malam tadi, aku katakan untuk melawan rasa takutku.
Tapi kemudian ia datang seperti petir.
Tiba-tiba, mengagetkan, dan menyisakan gemeretuk gigi karena ngeri.
Aku harus bagaimana, Malta?
Ketika aku sudah kenyang dengan pertanyaan, kamu malah menjejaliku dengan semangkuk tanda tanya.
Tidak bisakah kamu mengerti saja, hanya mengerti saja, bahwa aku tidak suka?
Aku tidak ingin menyendok mangkukmu.
Tidak bisakah,
kamu mengerti saja,
hanya mengerti.
bahwa aku tidak suka?
Yang ingin meruntuhkan segala pertanyaanmu,
Jani.
12.12.12
It's H.
suatu saat aku akan menulis surat tanpa nama kepada dewa Ra,
bahwa detik ini tak ada lagi rotasi satu semesta padanya,
bahwa kepingan ruang dan waktu telah tersimpan rapi dalam kotak pandora,
bahwa tidak ada sengatan Matahari yang dapat masuk dalam semestaku,
bahwa kunci yang sedari dulu hanya bisa kusimpan rapi, telah beralih tangan,
bahwa semestaku menemukan elemen baru.
bahwa suatu saat itu tidak perlu menghabiskan ribuan tahun,
bahwa suatu saat itu adalah saat ini,
ketika aku tak bisa berhenti menengok permukaan, meski hal itu membuat nafasku tersengal.
hanya untuk melihat elemenku, tidur mendengkur.
ketika tawaku pecah saat menikmati angin pantai yang lengket ketika ia menculikku.
ketika pupil tidak bisa tidak menangkap bayangannya, kemanapun ia pergi,
ketika aku terjatuh, dan ternyata ia menangkapku.
ketika ia menunggu di permukaan hanya untuk melihatku tersenyum dan menyerahkan kunci milikku,
ketika waktu tiba-tiba berhenti, dan aku bisa bernafas tanpa insang.
aku tak lagi berotasi, aku tak lagi berada di tepi jurang.
aku berada di guanya, meski aku belum tau bagaimana cara bernafas sepertinya.
bahwa detik ini tak ada lagi rotasi satu semesta padanya,
bahwa kepingan ruang dan waktu telah tersimpan rapi dalam kotak pandora,
bahwa tidak ada sengatan Matahari yang dapat masuk dalam semestaku,
bahwa kunci yang sedari dulu hanya bisa kusimpan rapi, telah beralih tangan,
bahwa semestaku menemukan elemen baru.
bahwa suatu saat itu tidak perlu menghabiskan ribuan tahun,
bahwa suatu saat itu adalah saat ini,
ketika aku tak bisa berhenti menengok permukaan, meski hal itu membuat nafasku tersengal.
hanya untuk melihat elemenku, tidur mendengkur.
ketika tawaku pecah saat menikmati angin pantai yang lengket ketika ia menculikku.
ketika pupil tidak bisa tidak menangkap bayangannya, kemanapun ia pergi,
ketika aku terjatuh, dan ternyata ia menangkapku.
ketika ia menunggu di permukaan hanya untuk melihatku tersenyum dan menyerahkan kunci milikku,
ketika waktu tiba-tiba berhenti, dan aku bisa bernafas tanpa insang.
aku tak lagi berotasi, aku tak lagi berada di tepi jurang.
aku berada di guanya, meski aku belum tau bagaimana cara bernafas sepertinya.
15.11.12
Percaya
sang pantulan cermin berkata, roda berputar.
iya, aku tahu. roda memang berputar.
tapi apakah yang di sana menghendaki perputaran yang sama?
sang pantulan cermin berkata lagi, percaya.
percaya pada apa?
keegoisan merajalela.
pertanyakan diri dalam pantulan cermin.
entah berapa kantung harga diri sudah dibuang.
dengan segenggam nyali, beranikan untuk percaya.
iya, aku tahu. roda memang berputar.
tapi apakah yang di sana menghendaki perputaran yang sama?
sang pantulan cermin berkata lagi, percaya.
percaya pada apa?
keegoisan merajalela.
pertanyakan diri dalam pantulan cermin.
entah berapa kantung harga diri sudah dibuang.
dengan segenggam nyali, beranikan untuk percaya.
Gadis bodoh yang duduk di tepi jurang.
Gadis bodoh itu tetap
duduk di pinggir jurang.
Entah apa yang
dilihatnya, yang jelas di seberang tempat ia duduk terdapat sebuah rumah.
Dia tak sedang
mengintai, ataupun mempersiapkan sesuatu.
Ia hanya diam, dengan
tatapan lekat tertuju pada rumah tersebut.
Aku pun tak tahu, apa
yang sedang ada dipikirannya.
Untuk apa ia
membuang-buang waktu, hanya duduk di tepi jurang, padahal banyak orang yang
mengajaknya pergi, beranjak dari tempat yang membosankan itu.
Tapi ia selalu
menggeleng. Menggeleng dan terus menggeleng, tidak melepas pandangannya dari
rumah.
Apa yang ia cari?
Hingga kuberanikan diri
untuk bertanya.
“Hey, sedang apa kau?”
“Aku? Sedang menikmati
sesuatu yang semesta berikan.”
“Kau tidak bosan?”
“Mengapa harus bosan?”
“Bukankah banyak yang
lebih menarik, ketimbang duduk disini?”
Gadis itu menatapku
sejenak kemudian tersenyum.
“Aku percaya, semesta
tidak sembarangan memberi aku kode-kodenya selama ini. Kata seseorang, aku
hanya perlu mempertebal kepekaanku. Aku tidak hanya duduk. Aku sedang
mempercayai apa yang aku lihat adalah baik.”
Dan aku semakin tidak
paham dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.
“Jadi, kau tidak mau
ikut denganku? Rumah itu sebentar lagi akan berpenghuni lagi.”
“Tidak, terimakasih. Aku tau cepat atau lambat ia akan punya penghuni baru. Tapi aku
akan mengejar apa yang membuat aku nyaman.”
Kutinggalkan gadis itu,
yang masih tetap duduk di pinggir jurang.
Gadis bodoh,
mempercayai sesuatu yang tidak pasti.
2.11.12
Rumah.
tidak mudah membangun sebuah rumah, apalagi mulai dari nol.
proses menggambar, memilih bahan bangunan, dan bahkan memilih tukang terpercaya yang bisa membangun rumah yang diinginkan.
semua proses penting, dan setiap detail juga mempunyai pengaruh.
kamu tidak bisa membangun rumah dengan hitungan hari.
terkadang prosesnya melelahkan, dan menuntut kamu untuk tidak berhenti.
terkadang bahan yang kamu inginkan tidak selalu menjadi bahan yang sebenarnya dibutuhkan.
terkadang proses membuatmu seolah ingin menghancurkan beberapa pondasi menjadi puing-puing.
kemudian pergi.
kamu tidak bisa membangun rumah dengan keadaan letih.
ya, kamu tidak akan pernah tau sampai kamu benar-benar mencobanya.
apakah desain rumah seperti ini benar-benar cocok untukmu?
apakah bahan-bahannya bisa membuat pondasi rumahmu kokoh?
dan apakah benar, kamu sedang ingin membangun rumah?
pikirkan kembali.
apakah kamu butuh rumah,
atau tempat untuk singgah?
proses menggambar, memilih bahan bangunan, dan bahkan memilih tukang terpercaya yang bisa membangun rumah yang diinginkan.
semua proses penting, dan setiap detail juga mempunyai pengaruh.
kamu tidak bisa membangun rumah dengan hitungan hari.
terkadang prosesnya melelahkan, dan menuntut kamu untuk tidak berhenti.
terkadang bahan yang kamu inginkan tidak selalu menjadi bahan yang sebenarnya dibutuhkan.
terkadang proses membuatmu seolah ingin menghancurkan beberapa pondasi menjadi puing-puing.
kemudian pergi.
kamu tidak bisa membangun rumah dengan keadaan letih.
ya, kamu tidak akan pernah tau sampai kamu benar-benar mencobanya.
apakah desain rumah seperti ini benar-benar cocok untukmu?
apakah bahan-bahannya bisa membuat pondasi rumahmu kokoh?
dan apakah benar, kamu sedang ingin membangun rumah?
pikirkan kembali.
apakah kamu butuh rumah,
atau tempat untuk singgah?
Langganan:
Postingan (Atom)

