8.9.14

#3 Quote of the Day : Curiosity

"once we believe in ourselves, we can risk curiosity, wonder, spontaneous, delight or any experience that reveals the human spirit."

makin lama jadi makin adiktif, dan saya jadi tidak tau apa yang mengawali saya melakukannya berulang-ulang. saya sudah tau rumusnya bahwa kita harus yakin dan percaya, tapi tiap hari tanpa melakukannya? kecuali saya sibuk banget bangetan, baru pernyataan tersebut masuk akal. 

shame on me.

ya sudah. life must go on. selama konsekuen dengan tindakan sendiri, saya rasa sah-sah saja lah. 

:)

7.9.14

#2 Don't you worry..

kalimatmu tadi bukan sekedar lewat. hingga kini masih tersimpan di lemari dalam memoriku. aku tau kamu tidak akan pernah bisa mengeluarkan apa yang sebenarnya sudah di ujung bibir. karenanya, kalimatmu tadi aku simpan, agar nantinya ke depan aku tidak harus membuatmu gelisah, mempertanyakan cara untuk menyajikannya padaku.

yang harus kamu tau, tidak lagi ku punya ruangan terkunci. 

sudah enam ratus tiga puluh hari lebih kita bersama, jangan lagi ada pertanyaan kecuali "will you marry me", ya?

6.9.14

#1 Masuk Happy, Pulang Happy.

Kalau dibawa melamun pikiran ini, melayang pada bulan Oktober 2013, pasti cuma bisa geleng-geleng saja. Keputusan yang hingga kini masih sering diremehkan, ternyata bisa bertahan hingga detik ini. Saya mahasiswa hukum yang mencari sesuap nasi di dunia broadcasting. Kata mereka, sayang ilmunya. 3,5 tahun belajar kitab undang-undang, ujung-ujungnya cari artis. Kata mereka, harusnya gelar saya (yang katanya prestigious) bisa membuat rekening tabungan saya menggendut.

Ah.
Untungnya saya orang yang ignorant. Apatis kepada hal-hal yang membuat beban di hidup saya. Maka 'kata mereka' hanya numpang jalan di telinga.

Saya ngga bilang mereka benar-benar salah. Saya pun sadar, bahwa suatu ketika akan ada keputusan yang diambil dengan tidak berdasarkan ego semata. Bahwa suatu ketika akan ada banyak hati dan kepala yang mulai masuk dalam daftar prioritas ketimbang diri sendiri.

Hanya saja, begini..

Cara saja mencari sesuap nasi dan segelas es teh manis tiap harinya ini adalah cara yang membuat hati saya gembira. Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Obat segala duka dan lara. Sebenarnya sih cuma ingin seperti masa SMA. Masuk sekolah happy, pulang juga happy. Karena pada saat SMA, ketika semua berlomba masuk kelas IPA, saya dibebaskan masuk kelas IPS, meski secara nilai saya bisa masuk IPA. Tapi karena dari awal sudah ingin sekali masuk kelas IPS, jadilah saya memutuskan untuk memilih jurusan tersebut. Akhirnya? Masa SMA saya menjadi masa yang paling menyenangkan!

"Stop making people feel bad for liking things that make them happy."
Kalian juga ngga suka kan kalo dibilang aneh kalo koleksi pernak pernik Star Wars?

Sekarang sih, saya sedang berkompromi dengan orang-orang yang sayangi tapi menentang apa yang saya kerjakan kini. Semoga nantinya akan ada jalan tengah ya, tanpa harus membuat salah satu terpaksa mengikuti jalan hidup yang bukan keinginannya.

Selamat malam.
Happy weekend, good people!

NB: Saya memulai kembali project #30HariMenulisBlog. Yaaaaahhhhh, doakan saja tidak ada postingan yang ngutang. *lirik jadwal shooting* Hahahaha :D

29.5.14

I wish I knew

jatuh cinta itu menunggu untuk jatuh berkeping-keping.

mencintai itu merelakan hati untuk ditusuk bertubi-tubi.

orang bodoh melakukan keduanya, berkali-kali.
tanpa tahu,
apakah benar memang itu tempatnya pulang.

17.5.14

Hujan di dalam kamar

Hari ini hujan sangat deras di dalam kamar, dan aku tidak ingin pindah.
Tidak ada tanda hijau dari smartphoneku yang sudah buluk, dan aku tetap tidak ingin pindah.
Kupenuhi udara kamar dengan nyanyian John Legend, membuatku semakin tidak ingin pindah, bahkan menggeser sedikitpun posisi dudukku.

Mengingat kembali, mencari sebab yang masuk akal, akan turunnya hujan di dalam kamar.
Dan seluruh diriku menolak semua daftarnya.

Ya sudahlah.
Mungkin hati ini hanya perlu latihan.

13.5.14

Jemari yang Tidak Bisa Lagi Menari

rupanya ini tidak benar-benar ditinggalkan.
kemarin penggemarnya bertanya.
dan sampai sekarang, sang pemilik memandang diam lembar kosong di depannya.
dengan jemari yang tidak lagi terbiasa menari.

merasa dikejar oleh waktu,
akhirnya ia menutup lembar putih itu.
untuk kesekian kali.

15.4.13

masa kepala dua

hidup di dunia berkepala dua ternyata lebih nyata.
terlalu tua untuk berlindung di bawah ketiak orang tua,
dan terlalu takut untuk keluar dari tempurung karena tidak pernah melihat dunia luar.
semakin lama, hidup pada masa kepala dua hanya akan membuat punggungmu makin bungkuk karena beban tak kunjung hilang, malah bertambah.
semakin lama, hidup pada masa kepala dua membuat rambutmu rontok dan kecanduan aspirin hanya karena terlalu lelah untuk berfikir.

atau,
ini hanya aku?

aku kira aku sudah paham dengan yang namanya ikhlas.
tapi apa?
kenapa seketika aku terdiam mati di tempat ketika tahu tidak ada namaku di situ?
kesempatan demi kesempatan hilang.
menyisakan pertanyaan: sampai kapan?

ini masih 10 kilometer pertama, dela.
jangan cengeng.