15.9.14

#10 Pindah

Hari ini saya pindah rumah. Sebenarnya tidak ingin, tapi harus.

Kenapa ya, di saat kita sudah nyaman dengan suasana rumah yang kita tempati, eh, disuruh pindah sama yang punya rumah. Iya, saya sudah tidak lagi di Sarah Sechan ketika lagi sayang banget dengan program ini. Emang sih kadang penuh drama dan tekanan, tapi bukankah akan selalu ada drama dan pressure dalam kehidupan ini? Ceilah.. Gitu amat.
Jadi ketika diumumkan bahwa saya harus pindah ke program lain, which is masih baru banget, rasanya patah hati campur deg-deg-an seperti kencan pertama. Patah hati karena dipaksa pindah dari zona nyaman saya. Deg-deg-an karena belum kebayang seperti apa program ini nantinya. Persis seperti kencan pertama, dengan orang yang benar-benar baru, yang sebelumnya belum pernah muncul di lingkaran pergaulan kita. Belum lagi beberapa faktor yang terdengar dari bisikan-bisikan tetangga. :p (Yes, I put that emoji because of some reason)

'Kanmaen nervousnyaa...

Yahhhh.. tapi mau gimana lagi?
Game is still on and I have to carry on.

Bae bae lo, Del.

13.9.14

#9 When life...


When life gives you a beach, make a silly pose!

#8 Give me more!



Selamat pagi, Yogyakarta!
Apa lagi kejutan yang kau beri pada memoriku kali ini?
:D

12.9.14

#7 This Friday

Yeaaayy! Thanks God It's Friday! Artinya saya akan silam sejenak meninggalkan Jakarta menuju kota yang disayang sejuta umat, Yogyakarta.

Ini bukan kali pertama saya kesana. Sudah beberapa kali, tidak terhitung. Tepatnya malas menghitung. (Buat apa juga :p) Dan selalu menyenangkan. Tidak pernah bosan. Meski kali ini saya kesana bukan dalam rangka liburan namun menemani Hipnos ke pernikahan teman kantornya, tetap saja IT IS YOGYAKARTA, you know! At weekend. Double happiness.

Mari kita packing.. dengan sedikit drama enaknya bawa berapa stel baju.
Gimana kalau satu lemari dibawa semua?

Happy weekend!

11.9.14

#6 Tanggal Sebelas

sekali kali ingin nulis tentang pacar ah.. mumpung hari ini kita satu tahun sembilan bulanan. ciee.. cem abege aja per bulan diitung.

pacar saya seorang Aquarius. akhir-akhir ini saya suka memperhatikan karakter beberapa zodiak. menurut yang saya dapat, Aquarius merupakan zodiak dengan unsur angin, jadi karakternya kurang lebih seperti angin. bebas, ngga terlalu attach, dan suka berubah-ubah. pride-nya tinggi, jadi bisa sangat sensitif kalau ada yang bersinggungan dengan prinsipnya. naahh, meski cuek, orang-orang Aquarius itu sebenarnya helpful, meski responnya datar. Dan kalau marah, seringnya suka hilang meninggalkan arena.

sedangkan saya seorang Cancer yang sangat sensitif, tapi sering menyembunyikannya dengan cangkang yang berlapis-lapis. banyak banget emosi yang disembunyikan. oleh karena itu sering banget bicara pake kode, yang sementara Aquarius paling males mecahinnya. unsurnya air, ngga heran kalo Cancer itu perasa banget. dan kalau sudah sayang, mereka pasti attach banget sama pasangannya.

karakter saya dan pacar bertolak belakang. awalnya susah banget mengimbangi sifatnya yang cuek dan datar, belum lagi dia ngga romantis sama sekali. tapi semakin kesini, perbedaan itu tidak lagi menjadi beban. mungkin karena saya sudah paham dengan kebiasaannya, atau mungkin juga dia sedikit demi sedikit sudah berubah mengimbangi saya. sekarang dia suka memberikan kejutan-kejutan kecil, berkata romantis ketika chat, dan memberikan gestur-gestur kecil yang membuat saya sumringah. hehehe jadi senyum-senyum sendiri nulisnya

pernah suatu ketika, kita ngobrol tentang masa depan. meski tipis, tapi bikin saya deg-deg-an. entah karena terlalu excited, atau malah sebaliknya, takut.
takut dia sudah siap, tapi ternyata saya belum.

however, I love you to the moon and back, Hipnos.

10.9.14

#5 Kebebasan itu mahal harganya

kamu pikir hidup sendiri itu enak?

sebagai orang yang pertama kali merantau, tentu saja saya akan menjawab big no. awalnya memang sangat mendambakan kebebasan untuk memilih mau makan dulu atau mandi dulu dalam mengawali hari. atau tidak ada yang mempertanyakan keberadaan saya ketika pukul 2 dini hari belum pulang. intinya, no fucking rules!

kenyataannya?

banyak banget aturan-aturan yang kasat mata yang mau ngga mau harus kita kerjakan. contohnya, jangan sering-sering menyenangkan perut kalau ngga mau akhir bulan cuma makan nasi, krupuk dan kecap. harus bisa cuci baju dan setrika sendiri, kalau ngga mau duitnya habis buat ke tukang laundry. matikan listrik yang tidak terpakai kalau tidak ingin tagihan membengkak dan bikin kamu ngga bisa beli sepatu yang kamu idamkan. daaaannn masih banyak aturan-aturan untuk survive hidup sendiri di kota orang.

belum lagi kalau homesick.

tiket pesawat jakarta-surabaya itu ngga ada yang murah. pasti 400 ribu ke atas. begitupun dengan kereta, cepet banget habisnya. jadi kalau homesick, ya cuman bisa telpon atau kepoin facebook orang rumah. hiks.

kebebasan itu mahal ya harganya..

9.9.14

#4 Nikahi aku sajalah, Mas..

beberapa teman dekat sudah menikah. bahkan ada yang sudah punya anak. selain pengeluaran untuk datang ke pernikahan bertambah, bertambah pula kesadaran bahwa umur ini sudah semakin banyak.

saya ngga tau, apakah saya termasuk orang yang sudah siap atau belum. cuman akhir-akhir ini, timeline instagram atau pinterest mulai banyak dengan foto-foto kebaya, pre-wedding, dan bahkan desain ruangan pernikahan. atau kalau lagi buka youtube, pasti paling tidak melihat satu video proposal. bahkan kalau lagi stuck banget sama kerjaan, rasa-rasanya ingin bilang ke mas pacar, "Nikahi aku sajalah, Mas.."

HAHAHAHA!

padahal kalau kata yang sudah menikah, kehidupan setelah pernikahan itu bikin semuanya menjadi bercabang. bayangkan kamu bersama seorang lelaki 24/7 yang jelas berbeda karakter atau bahkan pride maupun prinsipnya. berbeda kebiasaan, cara berpikir, atau bahkan berbeda prioritas. saya kalau ketemu dengan orang yang ngga sama prinsipnya saja terkadang memilih untuk tidak bersinggungan secara berkala. kalau begitu, apa-apa harus berdasarkan pemikiran dua kepala. bercabang. berarti kalau emosi kita belum siap untuk itu, wah.. bisa-bisa adu argumen tiap hari. apalagi kalau ditambah punya pasangan yang keras kepala. belum lagi masalah anak, finansial dan hal-hal sensitif lainnya. 

saya salut dengan teman-teman saya yang menikah di usia muda. itu artinya, mereka sudah lebih siap meski secara usia masih terbilang muda. sedangkan saya, menentukan mau makan apa hari ini saja harus pake drama dulu. hahahaha..

jadi, kapan siap menikah?