Kalau dibawa melamun pikiran ini, melayang pada bulan Oktober 2013, pasti cuma bisa geleng-geleng saja. Keputusan yang hingga kini masih sering diremehkan, ternyata bisa bertahan hingga detik ini. Saya mahasiswa hukum yang mencari sesuap nasi di dunia broadcasting. Kata mereka, sayang ilmunya. 3,5 tahun belajar kitab undang-undang, ujung-ujungnya cari artis. Kata mereka, harusnya gelar saya (yang katanya prestigious) bisa membuat rekening tabungan saya menggendut.
Ah.
Untungnya saya orang yang ignorant. Apatis kepada hal-hal yang membuat beban di hidup saya. Maka 'kata mereka' hanya numpang jalan di telinga.
Saya ngga bilang mereka benar-benar salah. Saya pun sadar, bahwa suatu ketika akan ada keputusan yang diambil dengan tidak berdasarkan ego semata. Bahwa suatu ketika akan ada banyak hati dan kepala yang mulai masuk dalam daftar prioritas ketimbang diri sendiri.
Hanya saja, begini..
Cara saja mencari sesuap nasi dan segelas es teh manis tiap harinya ini adalah cara yang membuat hati saya gembira. Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Obat segala duka dan lara. Sebenarnya sih cuma ingin seperti masa SMA. Masuk sekolah happy, pulang juga happy. Karena pada saat SMA, ketika semua berlomba masuk kelas IPA, saya dibebaskan masuk kelas IPS, meski secara nilai saya bisa masuk IPA. Tapi karena dari awal sudah ingin sekali masuk kelas IPS, jadilah saya memutuskan untuk memilih jurusan tersebut. Akhirnya? Masa SMA saya menjadi masa yang paling menyenangkan!
"Stop making people feel bad for liking things that make them happy."
Kalian juga ngga suka kan kalo dibilang aneh kalo koleksi pernak pernik Star Wars?
Sekarang sih, saya sedang berkompromi dengan orang-orang yang sayangi tapi menentang apa yang saya kerjakan kini. Semoga nantinya akan ada jalan tengah ya, tanpa harus membuat salah satu terpaksa mengikuti jalan hidup yang bukan keinginannya.
Selamat malam.
Happy weekend, good people!
NB: Saya memulai kembali project #30HariMenulisBlog. Yaaaaahhhhh, doakan saja tidak ada postingan yang ngutang. *lirik jadwal shooting* Hahahaha :D
6.9.14
29.5.14
I wish I knew
jatuh cinta itu menunggu untuk jatuh berkeping-keping.
mencintai itu merelakan hati untuk ditusuk bertubi-tubi.
orang bodoh melakukan keduanya, berkali-kali.
tanpa tahu,
apakah benar memang itu tempatnya pulang.
mencintai itu merelakan hati untuk ditusuk bertubi-tubi.
orang bodoh melakukan keduanya, berkali-kali.
tanpa tahu,
apakah benar memang itu tempatnya pulang.
17.5.14
Hujan di dalam kamar
Hari ini hujan sangat deras di dalam kamar, dan aku tidak ingin pindah.
Tidak ada tanda hijau dari smartphoneku yang sudah buluk, dan aku tetap tidak ingin pindah.
Kupenuhi udara kamar dengan nyanyian John Legend, membuatku semakin tidak ingin pindah, bahkan menggeser sedikitpun posisi dudukku.
Mengingat kembali, mencari sebab yang masuk akal, akan turunnya hujan di dalam kamar.
Dan seluruh diriku menolak semua daftarnya.
Ya sudahlah.
Mungkin hati ini hanya perlu latihan.
Tidak ada tanda hijau dari smartphoneku yang sudah buluk, dan aku tetap tidak ingin pindah.
Kupenuhi udara kamar dengan nyanyian John Legend, membuatku semakin tidak ingin pindah, bahkan menggeser sedikitpun posisi dudukku.
Mengingat kembali, mencari sebab yang masuk akal, akan turunnya hujan di dalam kamar.
Dan seluruh diriku menolak semua daftarnya.
Ya sudahlah.
Mungkin hati ini hanya perlu latihan.
13.5.14
Jemari yang Tidak Bisa Lagi Menari
rupanya ini tidak benar-benar ditinggalkan.
kemarin penggemarnya bertanya.
dan sampai sekarang, sang pemilik memandang diam lembar kosong di depannya.
dengan jemari yang tidak lagi terbiasa menari.
merasa dikejar oleh waktu,
akhirnya ia menutup lembar putih itu.
untuk kesekian kali.
kemarin penggemarnya bertanya.
dan sampai sekarang, sang pemilik memandang diam lembar kosong di depannya.
dengan jemari yang tidak lagi terbiasa menari.
merasa dikejar oleh waktu,
akhirnya ia menutup lembar putih itu.
untuk kesekian kali.
15.4.13
masa kepala dua
hidup di dunia berkepala dua ternyata lebih nyata.
terlalu tua untuk berlindung di bawah ketiak orang tua,
dan terlalu takut untuk keluar dari tempurung karena tidak pernah melihat dunia luar.
semakin lama, hidup pada masa kepala dua hanya akan membuat punggungmu makin bungkuk karena beban tak kunjung hilang, malah bertambah.
semakin lama, hidup pada masa kepala dua membuat rambutmu rontok dan kecanduan aspirin hanya karena terlalu lelah untuk berfikir.
atau,
ini hanya aku?
aku kira aku sudah paham dengan yang namanya ikhlas.
tapi apa?
kenapa seketika aku terdiam mati di tempat ketika tahu tidak ada namaku di situ?
kesempatan demi kesempatan hilang.
menyisakan pertanyaan: sampai kapan?
ini masih 10 kilometer pertama, dela.
jangan cengeng.
terlalu tua untuk berlindung di bawah ketiak orang tua,
dan terlalu takut untuk keluar dari tempurung karena tidak pernah melihat dunia luar.
semakin lama, hidup pada masa kepala dua hanya akan membuat punggungmu makin bungkuk karena beban tak kunjung hilang, malah bertambah.
semakin lama, hidup pada masa kepala dua membuat rambutmu rontok dan kecanduan aspirin hanya karena terlalu lelah untuk berfikir.
atau,
ini hanya aku?
aku kira aku sudah paham dengan yang namanya ikhlas.
tapi apa?
kenapa seketika aku terdiam mati di tempat ketika tahu tidak ada namaku di situ?
kesempatan demi kesempatan hilang.
menyisakan pertanyaan: sampai kapan?
ini masih 10 kilometer pertama, dela.
jangan cengeng.
21.12.12
Pelukan itu.
apa kabar, Malta?
sepertinya suratku sudah sampai, ya?
semoga bisa mengendap, dan segala aroma rasa yang terkumpul di dalamnya dapat memenuhi ruang otakmu.
baiklah. jadi begini..
lengan percayaku sudah memelukmu, dan kamu tau itu.
dan aku baru saja menemukan sesuatu dalam kotak yang ada di tumpukkan bawah.
entah sengaja, atau termakan waktu saja.
aku juga tidak tau.
apakah kotak itu masih difungsikan, atau ingin kau buang tapi tak bisa, atau..
entahlah.
pinsilku sampai patah.
entah karena emosi, atau karena pelukanku perlahan melorot, melepaskan eratnya darimu.
aku benci pertanyaan.
tapi kau tidak memberiku energi untuk selalu bisa memelukmu.
aku tidak bisa berdiri sendiri.
logikaku memarahi aku.
bahkan ia marah ketika musuhnya, hati, merintih kesakitan.
entah apa yang ada di pikiranmu, Malta.
aku tidak tau.
aku tidak pernah tau.
karena mulutmu terkunci dan aku tak menemukan aku dalam matamu.
tidak ada aku.
tidak ada.
ah, pinsilku patah lagi.
Malta, mengapa aku tidak bisa memelukmu lagi?
Yang selalu melihatmu,
Jani.
sepertinya suratku sudah sampai, ya?
semoga bisa mengendap, dan segala aroma rasa yang terkumpul di dalamnya dapat memenuhi ruang otakmu.
baiklah. jadi begini..
lengan percayaku sudah memelukmu, dan kamu tau itu.
dan aku baru saja menemukan sesuatu dalam kotak yang ada di tumpukkan bawah.
entah sengaja, atau termakan waktu saja.
aku juga tidak tau.
apakah kotak itu masih difungsikan, atau ingin kau buang tapi tak bisa, atau..
entahlah.
pinsilku sampai patah.
entah karena emosi, atau karena pelukanku perlahan melorot, melepaskan eratnya darimu.
aku benci pertanyaan.
tapi kau tidak memberiku energi untuk selalu bisa memelukmu.
aku tidak bisa berdiri sendiri.
logikaku memarahi aku.
bahkan ia marah ketika musuhnya, hati, merintih kesakitan.
entah apa yang ada di pikiranmu, Malta.
aku tidak tau.
aku tidak pernah tau.
karena mulutmu terkunci dan aku tak menemukan aku dalam matamu.
tidak ada aku.
tidak ada.
ah, pinsilku patah lagi.
Malta, mengapa aku tidak bisa memelukmu lagi?
Yang selalu melihatmu,
Jani.
20.12.12
Malta dan Jani.
Hai, Malta.
Ini surat pertama, dan akan ada surat-surat lainnya yang mendiami kotak suratmu sejenak sebelum berpindah ke tanganmu dan mengendap dalam memorimu melalui mata besarmu.
Aku pernah cerita, bagaimana bingungnya aku dengan apa yang terjadi beberapa bulan belakangan ini.
Bolak-balik aku ke bengkel, hanya untuk membenahi logikaku.
Mungkin karena terlalu sering kugunakan lebih dari sebagaimana mestinya.
Sehingga, beberapa bulan ini aku sering kerepotan karena mau tidak mau aku memakai hati untuk berfikir.
Kamu tau kan, Malta, bagaimana ribetnya memakai hati.
Aku tidak terbiasa. Dan ketika memakainya, rasanya aku seperti memakai kemeja dengan kancing yang tidak dikancingkan pada lubangnya. Amburadul.
Haha. Kau pasti tertawa, Malta.
Ya. Tidak ada yang mengetahui aku lebih dalam daripada kamu.
Bahkan sebelum aku mengetahuinya, kamu sudah tau lebih dulu.
Selalu ada dua Jani di dalam satu Jani.
Aku ingin menyapamu malam ini, Malta.
Tapi aku terlalu tenggelam dalam ego yang sedikit demi sedikit memakan akal sehatku.
Egoku pun akhirnya, memuarakanku kepada ketakutan yang selama ini menjadi tembok besar di rumah.
Baru saja, malam tadi, aku katakan untuk melawan rasa takutku.
Tapi kemudian ia datang seperti petir.
Tiba-tiba, mengagetkan, dan menyisakan gemeretuk gigi karena ngeri.
Aku harus bagaimana, Malta?
Ketika aku sudah kenyang dengan pertanyaan, kamu malah menjejaliku dengan semangkuk tanda tanya.
Tidak bisakah kamu mengerti saja, hanya mengerti saja, bahwa aku tidak suka?
Aku tidak ingin menyendok mangkukmu.
Tidak bisakah,
kamu mengerti saja,
hanya mengerti.
bahwa aku tidak suka?
Yang ingin meruntuhkan segala pertanyaanmu,
Jani.
Ini surat pertama, dan akan ada surat-surat lainnya yang mendiami kotak suratmu sejenak sebelum berpindah ke tanganmu dan mengendap dalam memorimu melalui mata besarmu.
Aku pernah cerita, bagaimana bingungnya aku dengan apa yang terjadi beberapa bulan belakangan ini.
Bolak-balik aku ke bengkel, hanya untuk membenahi logikaku.
Mungkin karena terlalu sering kugunakan lebih dari sebagaimana mestinya.
Sehingga, beberapa bulan ini aku sering kerepotan karena mau tidak mau aku memakai hati untuk berfikir.
Kamu tau kan, Malta, bagaimana ribetnya memakai hati.
Aku tidak terbiasa. Dan ketika memakainya, rasanya aku seperti memakai kemeja dengan kancing yang tidak dikancingkan pada lubangnya. Amburadul.
Haha. Kau pasti tertawa, Malta.
Ya. Tidak ada yang mengetahui aku lebih dalam daripada kamu.
Bahkan sebelum aku mengetahuinya, kamu sudah tau lebih dulu.
Selalu ada dua Jani di dalam satu Jani.
Aku ingin menyapamu malam ini, Malta.
Tapi aku terlalu tenggelam dalam ego yang sedikit demi sedikit memakan akal sehatku.
Egoku pun akhirnya, memuarakanku kepada ketakutan yang selama ini menjadi tembok besar di rumah.
Baru saja, malam tadi, aku katakan untuk melawan rasa takutku.
Tapi kemudian ia datang seperti petir.
Tiba-tiba, mengagetkan, dan menyisakan gemeretuk gigi karena ngeri.
Aku harus bagaimana, Malta?
Ketika aku sudah kenyang dengan pertanyaan, kamu malah menjejaliku dengan semangkuk tanda tanya.
Tidak bisakah kamu mengerti saja, hanya mengerti saja, bahwa aku tidak suka?
Aku tidak ingin menyendok mangkukmu.
Tidak bisakah,
kamu mengerti saja,
hanya mengerti.
bahwa aku tidak suka?
Yang ingin meruntuhkan segala pertanyaanmu,
Jani.
Langganan:
Postingan (Atom)