A cup of espresso on such a serene afternoon. Embracing the silence by the window, staring into nothingness. The residue of the past turns into dust; and everything’s sparkling under the sun. - @beradadisiniDon't stop me, dear you.
27.10.12
Thank You.
21.10.12
Segitiga.
semesta, hari ini kita berjumpa.
bertatapan mata. bertukar cerita.
tidak. kali ini tidak menyusuri rumah.
tapi kita saling melempar tanya.
semesta, lalu aku harus menjawab apa,
kalau aku pun masih tidak paham dengan jalan yang Kau tunjukkan?
sehingga ketika ia melempar tanya,
aku tangkap dan simpan dalam kepala.
tapi susah.
karena hati selalu ingin ambil bagian.
semesta, lalu aku harus bagaimana?
rasanya aneh ketika aku berpikir tentang apa yang tidak ingin kupikir.
rasanya pahit ketika aku harus berucap apa yang tidak ingin kuucap.
namun, aku tidak ingin melepaskan.
karena apa yang aku pijak kali ini,
benar-benar tempat yang ingin aku pijak.
bukan untuk diinjak, tapi untuk berdiri tegak.
siap melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
semesta, aku tidak lebih dari perempuan brengsek.
karena aku mengkhianati kaumku sendiri.
aku kanibal yang tidak bisa menahan diri.
tapi aku bisa apa?
kejujuran hatiku ingin diberi apresiasi.
tapi dilain tempat, kejujuranku bak pisau beracun yang siap melahap hati.
semesta, kita bertemu pukul empat.
kusiapkan tempat, agar percakapan kita erat dan melahirkan surat.
surat ijin untuk melanjutkan perjalanan.
dengan atau tanpa si pemilik senyuman.
bertatapan mata. bertukar cerita.
tidak. kali ini tidak menyusuri rumah.
tapi kita saling melempar tanya.
semesta, lalu aku harus menjawab apa,
kalau aku pun masih tidak paham dengan jalan yang Kau tunjukkan?
sehingga ketika ia melempar tanya,
aku tangkap dan simpan dalam kepala.
tapi susah.
karena hati selalu ingin ambil bagian.
semesta, lalu aku harus bagaimana?
rasanya aneh ketika aku berpikir tentang apa yang tidak ingin kupikir.
rasanya pahit ketika aku harus berucap apa yang tidak ingin kuucap.
namun, aku tidak ingin melepaskan.
karena apa yang aku pijak kali ini,
benar-benar tempat yang ingin aku pijak.
bukan untuk diinjak, tapi untuk berdiri tegak.
siap melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
semesta, aku tidak lebih dari perempuan brengsek.
karena aku mengkhianati kaumku sendiri.
aku kanibal yang tidak bisa menahan diri.
tapi aku bisa apa?
kejujuran hatiku ingin diberi apresiasi.
tapi dilain tempat, kejujuranku bak pisau beracun yang siap melahap hati.
semesta, kita bertemu pukul empat.
kusiapkan tempat, agar percakapan kita erat dan melahirkan surat.
surat ijin untuk melanjutkan perjalanan.
dengan atau tanpa si pemilik senyuman.
20.10.12
the time I remember most.
mengingatnya saja sudah membuat perutku geli.
dua hari yang lalu aku pulang.
ke rumah kami yang nyaman dan selalu aku rindukan.
bukan tanpa sebab aku kembali ke sana.
ke tempat yang seharusnya aku simpan dalam-dalam.
si pemilik senyum itu mengajakku berjalan-jalan, menyusuri setiap tepi rumah.
baunya masih sama. atmosfernya masih sama.
tidak ada yang berubah.
posisi sofa, tv, dan bahkan dua mug orange tetap pada tempatnya.
miniatur tomcat, meski sedikit rusak, namun tetap berdiri gagah.
dan misteri jogja dan ulang tahun pun terkuak satu persatu.
aku benar-benar kembali ke rumah.
aku pulang.
kemudian, hatiku penuh.
dan sekarang aku bingung mencari cangkir untuk menampung.
dua hari yang lalu aku pulang.
ke rumah kami yang nyaman dan selalu aku rindukan.
bukan tanpa sebab aku kembali ke sana.
ke tempat yang seharusnya aku simpan dalam-dalam.
si pemilik senyum itu mengajakku berjalan-jalan, menyusuri setiap tepi rumah.
baunya masih sama. atmosfernya masih sama.
tidak ada yang berubah.
posisi sofa, tv, dan bahkan dua mug orange tetap pada tempatnya.
miniatur tomcat, meski sedikit rusak, namun tetap berdiri gagah.
dan misteri jogja dan ulang tahun pun terkuak satu persatu.
aku benar-benar kembali ke rumah.
aku pulang.
kemudian, hatiku penuh.
dan sekarang aku bingung mencari cangkir untuk menampung.
5.9.12
Ingin pulang.
percakapan pukul delapan tadi, membawaku hanyut, tidak, tenggelam dalam lautan lamunan.
pertanyaan dan jawaban selalu berebut menempati ruang pikir.
satu lenyap, lainnya hinggap. tak hentinya mematri tiap pori.
tau apa aku tentang berbesar hati?
tuan rumah macam apa yang meninggalkan rumahnya untuk waktu yang lama untuk sekedar berjalan-jalan?
tak terhitung debu yang menempel pada perabot. udara lembab karena tak satupun jendela dibiarkan terbuka. dan ruang-ruang hampa yang dibiarkan tak tersentuh tawa.
apakah ini buah dari ketidakpedulianku?
jauh berjalan, seakan menuju suatu tempat, tapi tidak.
ternyata berlari dari apa yang (menurutku) mengejarku.
sekarang aku tercekat, kehabisan bekal nafas.
dan aku mulai merindukan rumah.
tapi sepertinya aku tersesat.
atau mungkin..
aku yang tak ingin menatap lekat-lekat, kompas yang menuntunku kembali ke rumah?
tau apa aku tentang berbesar hati?
sepertinya aku memang harus berdamai dengan diriku, kakiku, penglihatanku.
untuk pulang.
15.8.12
10.8.12
Paragraf Singkat
ketika aku sudah berani untuk menangkapmu, ternyata kau tak siap untuk jatuh.
roda memang benar berputar dalam sebuah paragraf yang singkat.
dulu, setengah hati aku menanam benih. sekarang kau yang sepertinya enggan menuai.
roda memang benar berputar dalam gelak tawa singkat dan berujung pada sorakan tangis.
aku merasakanmu dalam sunyi. pelan-pelan namun pasti.
lalu mengapa harus bergegas jika awalnya kau ajak aku untuk meniti.
ketika aku sudah hampir pada ujung titian, kau lenyap, tidak lagi memapahku.
aku memang bukan siapa-siapa dalam sedikitpun ruang hatimu.
tapi aku menyulam benang-benang sayang yang kau beri.
entah untuk apa, yang pasti inginnya aku naungi.
mungkin bukan sekarang.
atau mungkin bukan kau.
si pemberi benang-benang sayang yang sekarang harus aku urai satu persatu.
terimakasih untuk paragraf singkatnya.
jangan beri aku tinta lagi, karena lembar demi lembar sudah aku bakar.
roda memang benar berputar dalam sebuah paragraf yang singkat.
dulu, setengah hati aku menanam benih. sekarang kau yang sepertinya enggan menuai.
roda memang benar berputar dalam gelak tawa singkat dan berujung pada sorakan tangis.
aku merasakanmu dalam sunyi. pelan-pelan namun pasti.
lalu mengapa harus bergegas jika awalnya kau ajak aku untuk meniti.
ketika aku sudah hampir pada ujung titian, kau lenyap, tidak lagi memapahku.
aku memang bukan siapa-siapa dalam sedikitpun ruang hatimu.
tapi aku menyulam benang-benang sayang yang kau beri.
entah untuk apa, yang pasti inginnya aku naungi.
mungkin bukan sekarang.
atau mungkin bukan kau.
si pemberi benang-benang sayang yang sekarang harus aku urai satu persatu.
terimakasih untuk paragraf singkatnya.
jangan beri aku tinta lagi, karena lembar demi lembar sudah aku bakar.
28.7.12
About MG
aku suka kata-kata indah.
aku suka mendengarnya.
apalagi kalau itu terselip dalam setiap pesan.
pesanmu.
hanya saja, hal tersebut jarang terjadi.
aku tau kamu tak begitu lihai memutar lidah, bermain menyusun kata dengan segala estetika.
ah! itu memang bukan gayamu, dan aku tau.
toh aku memperhatikanmu bukan karena itu.
kamu berbeda.
kaku, pemalu dan tak banyak bicara.
bagaimana bisa kamu membuat perempuan tertarik dengan segala kekakuanmu?
You don't always say sweet thing, but you did a lovely thing.
Thankyou, MG.
aku suka mendengarnya.
apalagi kalau itu terselip dalam setiap pesan.
pesanmu.
hanya saja, hal tersebut jarang terjadi.
aku tau kamu tak begitu lihai memutar lidah, bermain menyusun kata dengan segala estetika.
ah! itu memang bukan gayamu, dan aku tau.
toh aku memperhatikanmu bukan karena itu.
kamu berbeda.
kaku, pemalu dan tak banyak bicara.
bagaimana bisa kamu membuat perempuan tertarik dengan segala kekakuanmu?
You don't always say sweet thing, but you did a lovely thing.
Thankyou, MG.
Langganan:
Postingan (Atom)