2.3.11

Surat untuk si Keriting

satu kata yang terpikirkan saat aku membayangkanmu.
menggoda.
ya, kau begitu menggoda.
dengan rambutmu yang ikal kecoklatan, dan aromamu yang membuatku melayang.
setelan putihmu membuatku ingin merengkuhmu.
wajah tampanmu.. ah. aku tak tahan ingin menciumnya!
bukan, ini bukan surat cabul.
tapi memang pesonamu membuat seluruh organ dalamku meleleh.

sayangnya, aku tak bisa dekat denganmu.
ibuku melarangku jatuh cinta denganmu, bahkan bicara denganmu saja, aku tidak boleh!
memangnya ini jaman romeo juliet apa yang jatuh cinta saja harus diatur.

dan hari ini aku melihatmu.
wira-wiri di kantin kampus.
dan kau, memang begitu menggoda.
dengan setelan putih dengan motif yang menggairahkan.
ya, ya, Indomie.
kau berhasil mencuri hatiku.

Love,
Orange.

1.3.11

Surat Untuk Biru

Hai, Biru. apa kabar? lama tidak bersua. terakhir bertemu sekitar 7-8 bulan yang lalu kan? waktu itu kita selalu bersama. setiap ada aku, kau selalu ada. semacam perangko dan lem saja begitu.

kalau aku melihat lagi ke arah belakang. aku rasa, kita benar-benar sahabat yang baik, ya? tidak pernah kita melewatkan jingga, tanpa duduk di bawah akasia hingga Matahari tertidur. kita juga tak pernah absen, bertukar celoteh pada saat purnama atau sang sabit, di atas genting rumahmu. ya, kan? atau pada saat menunggu ikan memakan umpan yang ada di kail kita, hingga kita tertidur. ha-ha-ha. aku rindu saat-saat itu, Biru. sungguh.

Biru, sebenarnya orang-orang di sekitarku tidak pernah setuju ketika aku menulis janji denganmu di suatu sore, piknik di bawah jingga. mereka berang, Biru. mereka membodoh-bodohiku! tapi aku tak peduli, aku tetap menemuimu, kan, di bawah akasia itu? habisnya, mereka bilang kamu itu buruk buatku. hah, apa yang mereka tahu?

Biru, maafkan aku. Juli itu, aku seakan menghapus jejak. bukan, bukan, aku tidak membencimu. pun, kamu tidak salah. saat itu aku kalut. tepat sehari sebelum aku pergi, aku bermimpi, Biru. dan dalam mimpi itu, ada aku dan kamu bergandengan tangan. awalnya tidak terjadi apa-apa, namun semakin jauh kita berjalan, tiba-tiba tanganku terbakar, Biru. kobaran api memakan cepat tanganku hingga menuju dada. aku pun melepaskan tanganmu, dan anehnya, seketika kobaran api itu mati. dan tangankukembali seperti semula. aneh, kan? tapi yang lebih aneh lagi, kobaran itu muncul. bahkan semakin merah. aku bangun dari tidurku dengan peluh di sana-sini. sesungguhnya aku takut mengartikan mimpi itu. namun mengapa hatiku berbisik untuk lebih baik menjauh sementara dari kamu. yah, mungkin aku memerlukan udara segar di luar sana, pikirku. kemudian, aku mulai berkemas dan menghapus jejakku, satu demi satu.

hei, Biru. tahukah kamu? aku sudah menikah! lihat-lah cincin bermotif matahari di jari manisku, lucu kan? sebulan setelah aku pergi, ada lelaki baik hati yang menyuntingku, namanya Merah. dia memberiku cincin ini. aku cinta dengannya, Biru. masih ingat tidak, ketika purnama di bulan Juli, seseorang mengetuk pintu rumahku dan menyelipkan surat dengan amplop bergelombang? iya, yang isinya ucapan selamat ulang tahun. dan ternyata tahukah kamu, Biru? itu dari si Merah ini! lelakiku. ha-ha-ha. lucu ya pasangan hidup itu? seakan misteri, tapi ternyata sudah berada tak jauh dari kita.

hei, Biru. maafkan aku sekali lagi. mungkin ini adalah surat pertama sekaligus menjadi yang terakhir yang aku kirim. aku tidak membencimu, atau tidak ingin menemuimu. tapi perjalananku selama ini mengajarkan banyak sekali hal. kamu tidak akan aku hapus, Biru. biarkan aku menjadikanmu kenangan yang.. begitu besar dan maha dahsyat yang pernah terjadi di hidupku.

baik-baik ya, Biru. dimanapun kamu berada. kecup manis dari aku dan Merah-ku.

Love,
Orange.

21.2.11

From Twitter To You

"semoga menunggu bisa menjadi kegiatan yang amat menyenangkan"

"jadi seyogyanya, hidup ini merupakan waiting line terbesar. menunggu, menunggu, dan menunggu. dan hidup tidak mengajarkan utk terburu-buru."

"aku sebenarnya tidak meng-iyakan, pun tidak menggeleng saat kamu minta aku utk menunggu. seyogyanya, mungkin mmg itu suatu kewajiban."

"yaaa, mungkin dengan menunggu, level kesabaran saya menjadi naik pangkat. semoga saya menjadi orang yang ikhlas."

"tapi kadang, egoisme selalu merajai, dan kadang malah jadi pemenang."

"aku bisa menunggu dibalik kuku yang kian memanjang karena waktu. menunggumu, menjemputku."

"aku tidak mengeluh, jangan tuduh aku si tukang keluh. aku hanya merangkai kata yang keluar dari dalam sini, dalam hati."

***

Jadi, ini adalah penggalan tweet, dimana Matahari meminta saya untuk sedikit menorehkannya disini :)

Ini yang kunamakan semrawut

inilah aku
berada di kamar oranye-ku
mengetik tuts-tuts hitam pada silverku

semacam memenuhi otak dan ingin tumpah
tumpah ruah membanjiri tuts hitam yang sedang aku mainkan
tapi aku bukanlah orang yang rapi
aku malas sekali membereskan yang-ingin-tumpahruah-ini
menjadi paragraf apik

"jangan dipaksa sayang, sesuatu yang dipaksakan itu tidaklah baik"
katamu sambil mengusap-usap rambutku
aku hanya menggerutu dalam hati
aku ini sudah lama tidak makan kue semprit, dan aku menginginkannya sekarang
jawabku padamu melalui hati

yang-ingin-tumpahruah-ini begitu berantakan
dan aku lupa menaruh sapuku dimana
dan lagi, aku ingin makan kue semprit

inilah aku
di kamar oranye
lagi-lagi, isinya semrawut

8.2.11

Tahun Depan

bersyukur atas malam hitam,
bintang malu-malu,
dan hawa dingin yang menyeruak kasar.
memori di kota mendoan seraya terlukis di jajaran langit kelam
entah berapa puluh kesal dan sesal yang diucapkan kemarin
entah berapa puluh sesak memadati hati
entah berapa ratapan yang meniduri dipan pikiran.
tapi semua itu takdir Tuhan
meski kaki ingin berlari, jika Tuhan mengikatmu dengan tali,
terseok hasilnya.

meja hijau, dan deretan nama hijau.
inginku tahun depan, menjajarkan dua kebanggaan pada airlangga.

27.1.11

Yang Lain

di pojok ruangan hijau
aku duduk di bangku besi berwarna abu
saat disentuh pantatku
rasa dingin teralirkan menuju otak
kamu kesepian, ya?
kataku sambil mengusap-usap punggungmu yang terbuat dari besi itu

di pojok ruangan hijau
aku melihatmu orgasme
kau meraba seluruh bagian tubuhnya yang memakai baju warna hitam
menggoda, ya?
wajahmu penuh peluh
kenikmatan
senyummu sarat kepuasan

di pojok ruangan hijau
aku membaca buku dengan kaki yang baru saja kubeli
sesekali ekor mataku melihatmu
yang sedang membara
dengan wanita itu
aku tidak sakit
aku malah tersenyum
kau dengan bajumu yang kelonggaran
bercumbu bagai bayi yang menyusu pada ibunya
dengan wanita berbaju hitam

di pojok ruangan hijau
aku kekasihmu
melihat kau bercinta dengan wanita lain
bernama Lucille.

13.1.11

#30 Don't Hesitate

Kenapa kamu sering bermimpi
Tentang aku dengan orang lain

Aku tak mengerti
Sama sekali
Apa yang ada dikepalamu
Sebelum kau kunjungi alam tidur

Kau pertayakan kesetiaanku?

Justru aku tidak punya
Rasa untuk berbagi cinta
Sudah kubuang dia
Dalat kotak berlakban hitam
Kuhanyutkan ke laut
Di makan paus