21.2.11

From Twitter To You

"semoga menunggu bisa menjadi kegiatan yang amat menyenangkan"

"jadi seyogyanya, hidup ini merupakan waiting line terbesar. menunggu, menunggu, dan menunggu. dan hidup tidak mengajarkan utk terburu-buru."

"aku sebenarnya tidak meng-iyakan, pun tidak menggeleng saat kamu minta aku utk menunggu. seyogyanya, mungkin mmg itu suatu kewajiban."

"yaaa, mungkin dengan menunggu, level kesabaran saya menjadi naik pangkat. semoga saya menjadi orang yang ikhlas."

"tapi kadang, egoisme selalu merajai, dan kadang malah jadi pemenang."

"aku bisa menunggu dibalik kuku yang kian memanjang karena waktu. menunggumu, menjemputku."

"aku tidak mengeluh, jangan tuduh aku si tukang keluh. aku hanya merangkai kata yang keluar dari dalam sini, dalam hati."

***

Jadi, ini adalah penggalan tweet, dimana Matahari meminta saya untuk sedikit menorehkannya disini :)

Ini yang kunamakan semrawut

inilah aku
berada di kamar oranye-ku
mengetik tuts-tuts hitam pada silverku

semacam memenuhi otak dan ingin tumpah
tumpah ruah membanjiri tuts hitam yang sedang aku mainkan
tapi aku bukanlah orang yang rapi
aku malas sekali membereskan yang-ingin-tumpahruah-ini
menjadi paragraf apik

"jangan dipaksa sayang, sesuatu yang dipaksakan itu tidaklah baik"
katamu sambil mengusap-usap rambutku
aku hanya menggerutu dalam hati
aku ini sudah lama tidak makan kue semprit, dan aku menginginkannya sekarang
jawabku padamu melalui hati

yang-ingin-tumpahruah-ini begitu berantakan
dan aku lupa menaruh sapuku dimana
dan lagi, aku ingin makan kue semprit

inilah aku
di kamar oranye
lagi-lagi, isinya semrawut

8.2.11

Tahun Depan

bersyukur atas malam hitam,
bintang malu-malu,
dan hawa dingin yang menyeruak kasar.
memori di kota mendoan seraya terlukis di jajaran langit kelam
entah berapa puluh kesal dan sesal yang diucapkan kemarin
entah berapa puluh sesak memadati hati
entah berapa ratapan yang meniduri dipan pikiran.
tapi semua itu takdir Tuhan
meski kaki ingin berlari, jika Tuhan mengikatmu dengan tali,
terseok hasilnya.

meja hijau, dan deretan nama hijau.
inginku tahun depan, menjajarkan dua kebanggaan pada airlangga.

27.1.11

Yang Lain

di pojok ruangan hijau
aku duduk di bangku besi berwarna abu
saat disentuh pantatku
rasa dingin teralirkan menuju otak
kamu kesepian, ya?
kataku sambil mengusap-usap punggungmu yang terbuat dari besi itu

di pojok ruangan hijau
aku melihatmu orgasme
kau meraba seluruh bagian tubuhnya yang memakai baju warna hitam
menggoda, ya?
wajahmu penuh peluh
kenikmatan
senyummu sarat kepuasan

di pojok ruangan hijau
aku membaca buku dengan kaki yang baru saja kubeli
sesekali ekor mataku melihatmu
yang sedang membara
dengan wanita itu
aku tidak sakit
aku malah tersenyum
kau dengan bajumu yang kelonggaran
bercumbu bagai bayi yang menyusu pada ibunya
dengan wanita berbaju hitam

di pojok ruangan hijau
aku kekasihmu
melihat kau bercinta dengan wanita lain
bernama Lucille.

13.1.11

#30 Don't Hesitate

Kenapa kamu sering bermimpi
Tentang aku dengan orang lain

Aku tak mengerti
Sama sekali
Apa yang ada dikepalamu
Sebelum kau kunjungi alam tidur

Kau pertayakan kesetiaanku?

Justru aku tidak punya
Rasa untuk berbagi cinta
Sudah kubuang dia
Dalat kotak berlakban hitam
Kuhanyutkan ke laut
Di makan paus

4.1.11

#29 Rintik Hujan

senja ini, hujan di luar sana. rintiknya meringis, menyapaku dibalik jendela kamar.
aku tersenyum sambil mengetuk telunjukku di jendela, pertanda aku membalas sapaannya.
hujan dan senja adalah kombinasi yang briliant.
hatiku seakan terhipnotis untuk melamun mengikutinya meresap dalam tanah.

aku menarik nafas panjang. Hhhh~

aroma tanah karena hujan. aroma capuccino hangat. aroma kamar. aroma kamu.
semua melesak ke dalam saluran pernafasanku. memenuhi sendi dan paru.
kemudian aku memejamka mata. mengejar memori dulu kala.
yang nampak di mata seperti putaran slideshow. kepingan kenanganpun mulai terkuak.

ah, aku rindu.

kepingan saat aku umur lima. gendut dan tak pernah berfikir akan semakin gendut jika makan.
berlarian dengan angin, terbahak oleh kelakuan teman sepermainan. aku belum kenal dengan Beban.
waktu tidak pernah berhenti berjalan. menyusun kepingn-kepingan kehidupan.
aku sudah hampir berkepala dua.
menurutku, berumur bukan berarti bebas melakukan apa saja. justru akan lahir pemikiran bernama pertimbangan dan resiko yang selalu muncul di setiap kita melakukan sesuatu.
tidak seperti saat kita berumur lima. semua mengalir seperti air.

rintik membuyarkan lamunanku. dia ingatkanku akan suara adzan maghrib.
kutempelkan ke lima jariku pada jendela. mengirimkan terimakasih pada rintik.
memberi kecup barang sejenak kepada cangkir capuccino, kemudian beranjak mengambil wudhu. meluruhkan sisa lamunan menuju pembuangan.

3.1.11

#28 Bibit Bunga

aku tidak menyangka
bibit bunga yang aku beli di bazaar kemaren bisa tumbuh sebesar ini

awalnya aku hanya iseng membeli sekantong bibit bunga dari nenek tua di sebuah bazaar
aku sebenarnya tidak tahu bunga apa ini
karena kasian aku beli lalu kubawa pulang

sampai rumah ku letakkan bibit tersebut dalam gudang
lalu aku kembali ke kamarku, meneruskan pekerjaanku yang tertunda
pekerjaan yang baru-baru ini aku tekuni

awalnya aku memang semangat
namun setahun kemudian, aku jenuh
karena pekerjaan ini sangat memojokkanku dengan tuntutan diluar kepala
hari-hariku dipenuhi deadline dan ketakutan untuk mengahadapi hari esok

tiba tiba aku dipecat.
aku frustasi, tak tahu lagi bagaimana meraih mimpi
begitu saja hingga dua bulan kalender habis
frustasiku menjadi masa bodoh karena sahabat-sahabatku memberi vitamin penyemangat
aku lupa akan tragedi PHK itu, dan aku dapat menjalani hidupku dengan normal

suatu hari, saat aku akan pergi piknik bersama sahabatsahabatku,
tibatiba pandanganku menuju ke arah gudang
seketika memoriku tertuju pada hari dimana aku membeli sesuatu dari sebuah bazaar
ku letakkan keranjang piknikku dan bergegas menuju gudang
ku cari-cari sesuatu itu, atas, samping, bawah hingga mataku tertuju pada tumpukan kain berantakan yang ada di atas meja
dan aha! itu dia sesuatu itu
aku menemukan bibit bunga dari nenek tua setahun yang lalu
sambil kubersihkan dia dari debu debu tahunan, aku menuju kamar

setibanya dikamar, aku buka kantong itu
hmm, bibit bunga yang unik
bijinya bergelombang yang berwarna merah
kirakira bunga apa ini? gumamku

aku ambil pot kecil sisa kaktusku yang tak terawat
kuganti tanahnya, dan aku letakkan biji unik ke dalam potku
tibatiba ada rasa penasaran yang muncul
sejenak melupakan frustasi yang menghantui

hari demi hari tak pernah kulewati tanpa memberi minum si biji unik
ku beri dia sinar matahari
dan terkadang ku putarkan beethoven untuknya
sebelum tidur, aku pun sering cerita bahkan mengeluh kepadanya tentang hidupku yang stagnan
aku senang, dan aku lupa akan tragedi PHK-ku

sekarang
empat bulan kalender habis
biji unikku tumbuh menjadi bunga matahari
ya, bunga matahari.
aneh ya? padahal bibitnya sama sekali tidak sama dengan bibit bunga matahari pada umumnya
mungkin benar kata nenek itu, ini bunga edisi terbatas
kau tidak akan pernah menemukan yang sama dengannya
meski rupanya sama dengan kebanyakan, tapi apa yang terkandung di dalam jelas-jelas berbeda
kau akan merasakannya suatu hari nanti, begitu kata nenek tua itu.

hey bunga matahariku, aku beri nama kau ya?
hmm, bagaimana kalau sunflower?
terlalu umum ya?
ah, aku tau! bagaimana kalau Sunny?
bagus, kan?

baik Sunny, temani aku terus yaa.. jangan pernah bosan mendengar cerita juga keluhanku.
aku akan merawatmu hingga kau tumbuh besar sehingga bisa melindungiku :)